waktu cintaku
Budaya

Waktu Cintaku

Waktu Cintaku

Pagi ini aku kedinginan, pagi di ujung musim hujan, di pangkal musim kemarau yang terlambat datang. Pohon-pohon mangga di pinggir jalan desa sepertinya tak tahan memendam kerinduan berbuahnya. Hujan yang terus-menerus turun, yang menggencet musim kemarau, nyaris tak memberi kesempatan pohon-pohon mangga untuk berbunga. Hingga setelah rentetan hujan mereda, bunga dan buah mangga yang masih bajang bersimaharajalela karena menahan kemunculannya selama berbulan-bulan. Seperti rindu-dendam yang tumpah ke dalam pelukan.

Demikian jugakah kau di sana? Orang-orang yang tak begitu gemuk sepertiku dan sepertimu tentu tak tahan dengan hawa dingin yang menyelusup sampai tulang-tulang ini. Lemak di tubuhku dan tubuhmu tak begitu banyak untuk digunakan sebagai zat pembakaran yang menghangatkan badan. Menggigilkah kau di sana? Pakailah jaket atau selimut. Atau paling tidak lingkarkanlah syal di lehermu. Jangan biarkan angin dingin menyakiti tubuhmu. Nanti kamu sakit.

Di tengah kepungan udara dingin ini, di kamar sepi ini, aku bertanya kepadamu, apa yang kau rasakan pada pertumbuhan dirimu saat ini? Tidakkah kau pun merasakan kenikmatan rahasia yang tengah kurasakan? Walau satu hari berjalan dalam tempo dua puluh empat jam waktu dunia, namun kurasakan sepertinya hari-hari berjalan begitu cepat dalam waktu cintaku. Segala peristiwa terasa legit bagai tuak yang baru turun dari pohon tal. Jiwaku seperti melayang-layang ke sana-kemari, dari bunga ke bunga menghisap sari, dari daun ke daun, dari kota ke kota, meluncur ke pelepah-pelepah mega, mandi uap di sana, memasuki istana yang dinding-dindingnya adalah awan yang bernyanyi meriah, mengarak-arak hidup untuk dijatuhkan ke tanah.

Mestinya kau lebih merasakan daripada yang kurasakan sebab ini terjadi karena kesunyianku menapaki jejakmu dari waktu ke waktu. Tentu yang dicari mempunyai lebih daripada yang mencari. Mutiara akan lebih berharga dan berkilauan ketika ada yang memburu, diriku ini. Walau kau tak tahu ada yang mencarimu, namun alangkah mustahilnya bagi jiwa abadi yang tak mampu menangkap rindu hanya karena mata tak saling bertatap dan mulut tak saling bercakap.

Tidakkah segala yang pernah bersatu di dalam cinta akan selalu terhubung selamanya? Tidakkah sepasang bintang, camar, atau apa saja yang terbetik dalam kenangan tentang dua jiwa yang beriringan dalam diam, adalah kita, sayang? Kita pernah hadir di sana, juga di sini, di segala ruang yang sempat dijelajah akal. Kelahiran berbusana raga inilah yang membuat kita terlupa tentang memori-memori kemesraan di taman tanpa aroma dan warna. Mungkin agar pertemuanku denganmu semakin mendebarkan karena saat kupandang matamu, pikiranku yang belum sepenuhnya takluk kepada ruh, yang tak berdiam di ruang dan waktu, menerka-nerka, “Kaukah itu yang mengetuk-ngetuk pintu heningku di malam-malam durja riuh-rendah?”

Betapa cinta telah mengusik rahasia sang kekasih, namun ia tetap menjadi rahasia di dalam dirinya sendiri.

Waktu Cintaku ini ditulis sekitar tahun 2017 oleh akun @javanicabooks di Instagram beberapa waktu lalu, cukup menarik dan sangat mendalam untuk dimaknai.


Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.