Simpang Lima Semarang Saat Dini Hari
Wisata

Tengah Malam Di Simpang Lima Semarang

Semarang adalah ibu kota Jawa Tengah yang bagian utara, berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan tak pernah lepas dari ikatannya dengan Simpang Lima.

Malam itu aku sedang perjalanan dari Bandung menuju ke Klaten melewati jalur utara. Semarang menjadi salah satu kota yang aku singgahi karena jalur Pantura salah satunya melewati kota ini. Semarang juga merupakan kota yang membelokkan arahku dari ke barat menjadi ke selatan untuk menuju ke Boyolali dan akhirnya ke Klaten.

Simpang lima merupakan salah satu icon yang dimiliki kota Semarang. Setibanya memasuki daerah kota, aku langsung mengarahkan kendaraan menuju ke lokasi ini. Melewati Lawang Sewu yang sempat menggodaku untuk berhenti di sana, tapi pada akhirnya Simpang Lima inilah yang membuatku singgah dan menempatkan pilihan padanya. Meskipun setelah beberapa kali memutarinya tanpa sebab yang pasti.

Gemerlap lampu menyapaku malam itu, disambut dengan kesunyian dan ketenangan meski banyak orang berlalu lalang. Tidak ada hujan sehingga masih cukup ramai untuk berkumpul atau sekedar duduk-duduk menghabiskan kegelapan malam dan menunggu pencerahan pada pagi yang tak kunjung datang.

Aku berhenti dan kuparkirkan motorku di pinggir, disamping mobil-mobilan yang biasanya disewakan untuk para pejalan yang ingin memutar simpang lima bersama teman – teman. Mirip dengan yang ada di Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Tak berselang lama, para pemilik mobil mainan itu membereskan lapaknya dan mempersiapkan diri untuk pulang. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ada sekitar empat mobil dan semuanya dirangkai bak kereta. Berdua, dengan menggunakan satu motor menariknya. Cukup menjadi hiburan di malam itu. Empat mobil mainan yang disambungkan dan ditarik menggunakan sepeda motor itu persis seperti gerbong kereta yang ditarik oleh lokomotifnya.

Waktu menunjukan angka 00.00 dan aku mengambil kamera untuk sekedar melakukan kebiasaanku akhir-akhir ini. Yaitu mengambil video setiap tengah malam.

Suasana disini tetap sama, tidak sepi dan tidak ramai. Hanya kendaraan – kendaraan yang berlalu lalang dan beberapa penjual yang ada di pinggiran jalan dengan beberapa pelanggan. Namun disisi lain sana, ada cahaya yang cukup menggoda, akupun beranjak dan mencari tempat lain yang enak untuk duduk dan istirahat.

Dini hari itu pun, setelah dari Simpang Lima, aku habiskan dengan menikmati secangkir kopi hangat di samping gedung besar dengan logo merah dan putihnya disana. Ramai, lebih ramai dari Simpang Lima Semarang. Badan sudah mulai terasa lelah dan akupun membatalkan perjalananku untuk kembali ke utara, ke Jepara. Kemudian memutuskan untuk pulang dan bertemu dengan keluaraga,

Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.