Kehendak Allah

Tidak ada hal yang bisa dirubah dan ditolak yang sudah menjadi kehendak Allah. Proses yang bisa dilakukan adalah mencari dan terus mencari dimana keinginan kita sesuai dengan apa yang Ia kehendaki. Meskipun Ia juga memberikan beberapa larangan yang harus tidak dilakukan.

Secara paradoks dapat dikatakan bahwa kehendak-Nya mengizinkan sebagian peristiwa Ia izinkan. Arti lain ada sebagian lainnya tidak Ia sarankan untuk tidak dilakukan. Sebaik – baik apapun impian yang kita inginkan, tetap saja kehendak-Nya sang maha dari segalanya yang akan menentukannya. Cepat atau lambat.

Alam semesta yang sangat luas ini, sehingga tidak mungkin terlihat batasnya dengan mata telanjang, tidak seorang pun yang pantas mengakui sebagai pemiliknya. Bumi dengan hamparan yang sangat luas, sungai-sungai, berikut lautan dengan gelombangnya masing-masing, tidak lain hanyalah sebagian dari setetes karunia Allah untuk manusia.

Demikian pula segala makhluk yang ada di atas bumi dan di alam semesta ini, yang hidup maupun yang mati, tidak lain hanyalah sebagian kecil dari kekayaan Allah.

Di dalam agama, Qadha dan takdir dari sisi kehendak Allah terbagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama, kehendak yang telah tertuang di dalam ayat-ayat suci. Adapun hubungan kata kehendak-Nya dengan takdir sangatlah erat kaitannya. Seperti contoh kalimat Sya-a, Yasya-u, Masyi-atan mempunyai makna kehendak, dan banyak disebutkan melalui firman Allah.

Apa pun yang sudah menjadi kehendak Allah, meskipun kita telah berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, pasti tidak akan pernah mungkin terwujud. Akan tetapi, adakalanya dengan kasih sayang yang serba Maha Allah mengabulkan atau mewujudkan sesuatu yang dihendaki seseorang.

Kehendak Allah dan Kehendak Manusia

Allah menganggap kehendak orang itu sebagai do’a, wirid, atau hizib. Di jawa bisa disebut dengan mantra. Kehendak-Nya bisa menjadi sebagai pengabulan atas semua negosiasi seseorang. Pada hal seperti ini bisa jadi bahwa kehendak Allah pasti bertepatan dengan kehendak manusia.

Jika diperlakukan dengan sangat kejam ketika masih seorang anak dan seseorang bertanya, “Apakah kamu pikir itu adalah kehendak Allah?” sekarang memiliki suatu cara untuk membuat suatu arti dari hal ini dan memberikan sebuah jawaban yang tidak berlawanan dengan kehendak Allah. Dapat dikatakan, “Tidak itu bukan kehendak Allah; karena Ia memerintahkan agar manusia tidak kejam, tetapi mengasihi satu sama lain. Perlakuan kejam melanggar perintah-Nya sehingga menggerakkan hati-Nya dengan kemarahan dan dukacita.”

Kehendak Allah yang nyata berarti Allah yang menyatakan apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Sebagai contoh, karena kehendak Allah dinyatakan, kita dapat mengetahui bahwa Allah ingin kita tidak mencuri, mengasihi musuh, bertobat dari dosa, dan harus hidup saling menyayangi satu sama lain. Melakukan kehendak Allah ini dinyatakan baik melalui Firman-Nya dan hati nurani kita, tempat Allah menaruh nilai moral dalam setiap hati manusia. Aturan Allah, apakah tertulis dalam Kitab Suci atau dalam hati nurani, menyatu dalam diri kita. Ketika kita tidak menaatinya, hal itu akan diperhitungkan kepada kita.

Jika kita tidak berhati-hati, kita dapat dengan mudah disibukkan atau bahkan terobsesi menemukan kehendak Allah dalam hidup kita. Padahal, jika kehendak yang kita cari adalah yang mengenai rahasia-Nya, yang tersembunyi, dan yang telah digariskan, maka kita melakukan hal yang bodoh. Allah tidak memilih untuk mengungkapkan aspek itu kepada kita. Apa yang kita perlu cari tahu ialah menunjukkan atau menyatakan kehendak-Nya.

Lakukanlah semua hal yang Allah suka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kembali ke Atas