Pitutur Nglantur - Syini Kopi
Budaya,  Rakyat

Pitutur Nglantur! Panggung Rakyat di Syini Kopi

Kota Jogja di malam hari tak pernah sepi. Apalagi, jalan sepanjang Tugu hingga Kraton. Hampir setiap malam ada keramaian di sana, hidup selama 24 jam dalam tujuh hari.

Tidak berbeda dengan beberapa titik di sekitarnya. Meskipun terlihat sepi sunyi, tetapi ketika masuk ke dalamnya terasa ramai dan mempunyai cerita tersendiri.

Tingkah lakunya pun bermacam-macam. Ada yang mengobrol sambil menikmati kopi, ada yang menggerombol dan asik dengan televisi, ada pula yang sedang duduk bersama, menikmati suasana kebersamaan yang sudah hampir hilang dari bangsa yang katanya merdeka

Pitutur Nglantur

Malam itu ada acara sederhana yang digelar di area Syini Kopi, diberi judul “Pitutur Nglantur“.

Rencananya, aku berangkat agak awal agar dapat tempat duduk yang nyaman. Bukannya berangkat lebih awal, malam itu hampir saja batal mampir karena kondisi badan kurang fit. Namun, karena jalan pulang searah, akhirnya aku memutuskan untuk mampir saja.

Seperti biasa, kalau mau ke Syini Kopi aku biasanya mampir dulu di angkringan yang letaknya pas di gang masuk sebelum Syini Kopi.

Dari angkringan yang jaraknya hanya beberapa meter, tak terdengar suara berisik dari Syini Kopi. Mungkin kalah dengan suara kendaraan lalu lalang di Jalan Wates. Tidak juga terlihat keramaian, hanya beberapa orang terlihat mengatur parkir mobil di pinggir jalan. Sedangkan mas-mas yang menunggu angkringan, seakan-akan tak tau ada beberapa orang ‘terkenal’ sedang mengadakan acara di balik tembok angkringannya.

Pitutur Nglantur - Syini Kopi (3)
Pitutur Nglantur – Syini Kopi (3)

Sesampainya di Syini Kopi, bagian dalam sudah penuh dan yang baru datang hanya dapat berdiri di belakang, di dekat pintu masuk. Saat aku datang, ada penampilan seorang laki-laki paruh baya, aku kira Mas Alit Jabang Bayi, atau Mas Anang Batas, atau Mas Awangizm, atau Mas Darto. Dan ternyata bukan salah satu dari mereka. Ya maklum, aku belum pernah bertemu dengan mereka.

Tak berselang lama, tiga orang yang tadinya duduk kemudian berdiri dan sedikit membut guyonan yang langsung membuatku tertawa meskipun baru saja datang. Ketiga orang itu tak lain adalah Mas Alit, Mas Anang, dan Mas Awang: nama-nama yang tercantum di poster.

Tak hanya sekali, berulang kali mereka melemparkan guyon yang membuat suasana menjadi lebih mencair dan membahagiakan.

Hampir lima belas menit aku bediri di dekat gerbang masuk. Terlihat salah seorang teman di tengah menawari untuk duduk di sebelahnya, tapi aku memilih untuk tetap berdiri. Ya karena harus melangkahi beberapa orang dibelakangnya. Kan pekewuh, heheu.

Menjelang sekitar pukul 10 malam, beberapa orang perempuan terlihat pergi untuk pulang, mungkin takut kos-kosannya dikunci. Aku yang sejak tadi berdiri, akhirnya bisa duduk di dekat panggung sederhana itu.

Tak henti-hentinya tawa lepas dari mereka yang hadir. Suasana kebahagiaan dan kekeluargaan sangat terasa, padahal aku datang sendiri tanpa janjian dengan siapapun juga di sana, tapi kita terasa seperti sudah kenal dan dekat sekian lama (atau hanya perasaanku saja?)

Saat duduk, terlihat beberapa personil Letto berada di sayap kiri panggung yang tampak santai dan sesekali ketawa heboh menikmati guyonan yang dibawakan oleh duet A3 (Alit, Anang, Awang).

Melihat mas-mas Letto sudah di bawah, aku kira acara sudah hampir selesai, ternyata Letto yang menjadi tamu utama sekaligus tuan rumah belum juga tampil ke atas panggung.

Letto Alih Profesi Menjadi Stand Up Comedy

Seluruh personil Letto naik ke atas panggung. Pada malam itu seluruh personil Letto ditantang untuk melakukan Stand Up Comedy. Sambil melakukan check sound, satu persatu dari mereka ditantang untuk melemparkan guyonan. Ada yang malu ada pula yang ternyata mempunyai bakat lucu, seperti Mas Patub yang wajahnya mirip dengan Mas Alit.

Mas Alit yang memandu acara pada malam itu juga ikut menambah gayeng dengan banyolannya dan Mas Anang yang khas dengan plesetannya, tentu juga dengan Mas Awang dengan menjadikan dirinya sendiri objek bercandaan yang pada malam itu ‘beragama’ beda dengan yang lainnya. Meski saling ejek, tetapi semua terlihat tidak ada dendam sama sekali, malah kata ‘misuh’ menjadi lebih indah di dalamnya.

Kita yang hadir pada malam itu dikenalkan Letto tentang permainan tebak-tebakan “Ono lho..”. Tebak-tebakan tentunya dalam dalam rangka guyonan. Tebak-tebakan itu kadang mereka pakai di mobil ketika melakukan perjalanan bersama.

Satu persatu dari mereka menanyakan sebuah pertanyaan menggunakan awalan ‘Ono lho’ di awal pertanyaan. Jawabannya mengambil unsur nama daerah yang ada di Yogyakarta. Jawabannya pun lucu, aneh, dan terkadang tidak masuk akal. Tetapi, itulah yang membuat kami yang hadir pada malam itu tak henti-hentinya tertawa lepas.

Garing adalah Kelucuan yang Menyamar

Pitutur Nglantur - Syini Kopi (2)
Pitutur Nglantur – Mas Cornel dan Istri

Mas Darto yang sejak tadi aku pertanyakan “Siapa ini?” akhirnya muncul juga di atas panggung. Oranganya terlihat lebih lugu dan pendiam, tetapi memang wajahnya lucu. Mas Darto meskipun bukan seorang koemdian, malam itu juga ditantang untuk melakukan Stand Up Comedy sama seperti yang lainnya.

Guyonan-guyonan yang dilontarkan Mas Darto memang tak secanggih A3, bahkan cenderung biasa-biasa saja alias garing. Namun, itu berhasil membuat tertawa kami. Aneh memang, tapi ya itulah, kalau sudah saling mengamankan dan berada di lingkungan kebahagiaan yang sama, kejadian apapun tampak bisa membahagiakan.

Selain Mas Darto, juga ada perform dari “Indonesia Fingerstyle Guitar Community” dan “See and See”. See and See sudah perform pada saat berdiri tadi, kini giliran Indonesia Fingerstyle Guitar Community yang ternyata salah satu anggotanya adalah Mas Cornel dan sang Istri.

Sebelum Cahaya, Ruang Rindu Berhasil Bersandar di Hati

Suasana malam itu ditutup dengan sangat spesial tambah telor oleh tuan rumah, Letto.

Kali ini Mas Sabrang tidak hanya menonton saja, tetapi ditantang untuk melakukan Stand Up Comedy juga.

Pembawaan Mas Sabrang yang santai dan suaranya yang lembut membuat kami yang hadir seperti ikut terbawa masuk ke dalam dunianya. Kata demi kata mulai dirajut. Aku sejenak terdiam, ikut memperhatikan setiap kata yang keluar, menunggu jokes yang akan dilemparkan dan memperhatikan ekspresi yang dikeluarkan. Malam itu Mas Sabrang seperti mementaskan sebuah pertunjukan besar antara dirinya dengan perjalanan hidupnya bersama Letto.

Tak sulit untuknya memecahkan tawa kami yang dengan tenang menyimak setiap perkataannya. Topiknya pun tak jauh-jauh. Dia mencertikan tentang asal nama Letto itu dan bagaimana orang-orang mencoba mengartikannya.

Ketika selesai, Mas Alit Jabang Bayi dan Mas Anang Batas ikut mengomentari Stand Up yang dibawakan oleh Mas Sabrang dan menilai Mas Sabrang sudah memberikan paket lengkap dari rule of three, act out, dan callback yang menjadi dasar dari Stand Up Comedy.

Kegembiaraan yang muncul membawa kami ke atas sana, kepada kebahagiaan yang tidak dapat diukur dari materi. Melayang-layang, melupakan hutang. šŸ™‚

Di akhir acara, semua personil Letto mencoba membawa kami kembali membumi dengan  beberapa lagu mereka: Ruang Rindu, Sebelum Cahaya, dan Sandaran Hati. Tiga lagu yang menambah kebahagiaan menjadi sebuah kemesraan antara kami yang hadir.

Sejenak aku teringat suasana di luar sana, saling lempar dan saling menjatuhkan satu sama lainnya, ada isu kecil dibesar-besarkan dengan tujuan menjatuhkan lawan, ada juga yang saling sikut-sikutan untuk mendapatkan jabatan. Di sini, aku menemukan, bukan jabatan atau kekayaan yang dicari untuk sebuah ketenangan, sesrawungan dan rasa kekeluargaanlah yang justru membuatnya menjadi lebih menentramkan. Di kesederhanaan ini, dalam suasana srawung antara satu dengan yang lainnya, aku juga merasakan kedamaian yang luar biasa.

Tepat pukul jam 12 malam sesuai jam di tanganku, acara selesai. Aku pulang dengan tetap merasakan kesederhanaan dari acara yang seperti oase di padang pasir itu. Sejuk, teduh, seger, di tengah hiruk pikuk panasnya politik di negeri ini. Semoga kita diizinkan kembali bersama.

Bantul, 17 November 2018

Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.