Bersama Perjumpaan Ada Perpisahan
Insomnia

Bersama Perjumpaan Ada Perpisahan

Bersamaan dengan perjumpaan ada perpisahan yang kapan saja tumbuh dan berbuah. Mungkin itulah hukum yang terjadi di dunia yang tampak di mata. Segala hal selalu diikuti dengan hal yang lainnya meskipun terpisahkan oleh jarak yang tak lagi bisa dihitung dengan angka. Apakah hal yang sama bisa saja terjadi di dunia saja? Dunia yang tak pernah mata melihatnya.

Pernahkah kita bertemu di dalam satu rasa yang sama? Berdua bersama berjalan di jalan kebahagiaan. Tak pernah terbayangkan untukku mengalami hal itu. Meskipun setiap hari kamu meyakinkanku bahwa disetiap langkahku kita selalu menjadi satu. Kesepian yang kadang menyapa membuatku sadar, kamu tidak benar-benar ada bersamaku. Kau meninggalkanku bahkan sebelum aku sadar itu. Apakah itu tujuanmu?

Seseorang berkata kepadaku, kamu tidak pernah bermaksud meninggalkanku. Hanya menciptakan jarak yang mungkin saja membahayakan untuk sebuah ikatan. Orang bilang jarak menciptakan rindu dan cinta itu terbangun dari rindu-rindu yang bercampur dengan semen setia. Apakah orang itu juga bilang kepadamu?

Sampai kapan kamu akan memperlakukanku seperti ini? Tak lelahkah terus membuat kita melayang-layang. Bahkan burung Walet Alpine yang bisa terbang hampir 200 jam pun butuh istirahat.
Jika itu maumu, baiklah kita lalui bersama. Bagaimana pun aku tak pernah lelah untuk memandangmu, bertemu, dan mencari makna tentang kita meskipun meskipun terkadang kamu datang dan pergi begitu saja. Semua itu akan aku terima apa adanya. 

Oya, saat aku bertemu denganmu, ada kebahagiaan yang tak pernah bisa terpecahkan alasannya. Meskipun sudah kutanyakan kepada bebatuan, gedung-gedung perkantoran, perhiasan, dan disekolahan. Haruskan aku juga bertanya pada rumput-rumput yang bergoyang?. Tak sempatku menemukan jawaban. Perpisahan harus membiarkan rindu tetap bertahan.

Aku terjebak di dalam sebuah pertanyaan demi pertanyaan hanya mengharapkan berjumpa lagi dengan pertemuan yang bahkan tidak pernah tau kapan menjadi kenyataan.

Di pucuk gunung sebrang lautan sanam terlihat ada orang desa yang melambaikan tangannya kepadaku. Mengajakku berkunjung untuk menikmati kopi dan secangkir teh di pagi hari, menikmati senja di sore hari, dan bertelanjang mata untuk menikmati bintang-bintang yang memusnahkan dirinya agar aku bisa melihatnya bercahaya.

Aku juga baru tau, ternyata bintang yang kita lihat itu sebenarnya sudah tiada. Hanya karena jarak kita dan mereka terlalu jauh. Cahayanya baru bisa kita lihat bertahun-tahun setelahnya dan kemudian hilang digantikan oleh cahaya lainnya yang tersusun dari unsur yang sama. Pertemuan antara bintang dan langit pun harus berujung pada perpisahan antara mereka. Oh, tapi kenyataan mereka bertemu lagi dalam suasana yang berbeda. Atau sebenarnya mereka tidak pernah berpisah? Bintang hanya menciptakan jaraknya dengan langit agar bisa tetap bersatu di dalam langit malam yang syahdu.

Coba aku tanyakan kepada rumput yang bergoyang.
Walau sampai ke ujung dunia.

Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.