mantra 2019
Budaya,  Rakyat

Mantra 2019 : Aku Dimana?

Suasana sedikit tegang, jantungku terasa lebih berdebar ketika aku menyalakan kendaraan ketika akan pergi ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Saat itu, akan diadakan pentas seni Mantra 2019 hasil buah karya Pak Joko Santoso.

Sejujurnya, sudah lama sekali tidak menyaksikan pentas seni budaya jawa. Meskipun pernah juga beberapa kali, malam itu terasa sangat berbeda.

Aku sengaja berangkat lebih awal agar lebih leluasa dan bisa menikmati suasana sebelum pentas berlangsung.

Pentas rencananya akan diadakan pada pukul 19.38 tepat. Tidak kurang, tidak lebih.

Arek Surabaya di Mantra 2019

Sekitar satu jam sebelum pentas dimulai, aku sudah di area Taman Budaya Yogyakarta. Kendaraan tidak boleh parkir di dalam, jadi aku hanya bisa parkir di luar. Ada angkringan di dekat tempat parkir, aku ngopi disana. Disampingku, ada dua orang yang terlihat baru saja melakukan perjalanan jauh. Ternyata dua orang tersebut jauh – jauh dari Surabaya hanya untuk ikut merasakan atmosfer Mantra 2019 secara langsung.

Sayang sekali aku tidak ingat nama mereka, aku memang tidak terlalu mudah untuk mengingat nama seseorang. Setidaknya aku sedikit masih bisa mengingat wajah mereka yang terlihat sangat baik, bahkan mereka membayari kopiku sebelum aku mengambil uang untuk membayarnya.

Orang baik masih banyak di negara ini, semoga Gusti Allah tidak tega untuk memberikan sesuatu yang tidak menyenangkan pada Indonesia yang membuat mereka tidak tenang untuk melanjutkan hidup.

Tidak selang berapa lama, kami beranjak dari angkringan dan mereka berdua izin untuk pergi mandi, sedangkan aku tadinya mau menunggu tetapi ternyata kamar mandi yang dekat taman budaya yogyakarta tidak bisa dipakai alhasil harus pergi ke tempat yang lebih jauh untuk mandi. Tidak tau, tiba – tiba mereka sudah berjalan jauh.

Bingung mau menunggu atau mau langsung masuk, aku memutuskan untuk masuk terlebih dahulu kemudian menunggu di pintu masuk gedung dan mencari toilet untuk mengurangi sedikit cairan yang ada di tubuh, alias buang air kecil.

Cahaya Kuning Kemerahan Terlihat dari Kejauhan

Saat melangkahkan kaki melewati gerbang, dari bibir gerbang sudah terlihat cahaya kuning kemerahan terpancar dari lantai dua gedung taman budaya yogyakarta. Pada tangga naik terlihat lilin-lilin menyala seperti menyambut kedatangan para penonton untuk masuk ke dalam gedung.

Suasana mistis sedikit terasa saat aku melangkahkan kaki di tangga menuju ke lantai dua.

mantra 2019 - lilin

Depan pintu masuk berdiri sebuah sapu lidi dikelilingi dengan lilin yang menyala bertuliskan Mantra.

Disekitarnya dikelilingi oleh bunga mawar yang disebarkan hampir memenuhi pelataran lantai dua gedung taman budaya yogyakarta. Belum banyak penonton yang datang karena waktu itu masih kurang dari jam 7 sedangkan Mantra 2019 baru akan dimulai pada pukul 19.38 sesuai dengan jadwal.

Aku memandang kosong kearah sapu lidi yang berdiri terbalik itu. Setauku jika ada hal seperti itu adalah untuk menjaga agar daerah tersebut tidak hujan untuk sementara waktu. Pada saat itu memang tidak terjadi hujan meskipun di beberapa sisi langit terlihat kilatan cahaya putih. Sedangkan lilin-lilinnya menyala aku tidak mengerti untuk apa selain menampilkan kata Mantra disana. Mungkin ada arti lain yang ingin disampaikan secara tersirat, sayangnya aku tidak mengerti banyak.

Belum banyak penonton yang datang, hanya beberapa panita dengan tamu undangan yang terlihat sibuk dengan keperluannya masing – masing. Aku memutuskan untuk pergi kebawah untuk mencari kamar mandi.

Pertama Kali Masuk ke Ruang Teater Taman Budaya Yogyakarta

Di lantai dua, masih harus melewati satu tangga untuk masuk ke ruang teater. Disepanjang tangga juga terdapat lilin yang terlihat lebih terang di kegelapan, seperti penari yang bergerak mengikuti alam. Angin yang membawa nyala api kekiri dan kekanan. Terkadang gerak para penonton yang ingin masuk ke dalam ruangan, menambah indah pergerakan api yang tidak karuan.

Sampai di dalam ruangan, suasana begitu tenang. Belum banyak penonton yang datang, aku termasuk salah satu penonton yang datang lebih awal daripada yang lainnya. Posisi duduk waktu itu di sisi kanan panggung atau sebelah kiri dari pintu masuk theater.

Ingin duduk di bagian depan. Namun hanya penonton VIP yang bisa menikmatinya.

Setelah menunggu beberapa lama, jam sudah menunjukan pukul 19.30, tapi pertunjukan belum juga dimulai. Apakah akan ngaret pikirku. Ternyata, tepat dan pas pukul 19.38 pertunjukan dimulai. Dari situlah aku mulai merasa terkesan dan mulai memperhatikan gerak demi gerak yang terjadi di atas panggung.

Semakin Malam Penonton Semakin Banyak, Bahkan Kursi yang Disediakan Tak Mampu Mempersilahkan

Selang beberapa saat pertunjukan dimulai, tidak sedikit penonton yang mulai berdatangan. Hanya saja aku tidak bisa melihat para penonton yang baru datang, karena semua lampu dimatikan. Jadi aku tidak bisa memanggil teman jika ada yang datang.

Semua kursi mungkin sudah diduduki, alhasil banyak penonton yang duduk di tangga-tangga ruang teater. Mulai dari depan sampai belakang penuh penonton yang ingin menyaksikan langsung Mantra 2019.

Dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, aku tidak bisa menceritakan dengan baik apa isi dari Mantra 2019. Maka dari itu aku meminjam salah satu artikel dari Mas Zuriat Fadil. Isi dari Mantra 2019 bisa kamu baca melalui tulisan Mas Muhammad Zuriat Fadil di halaman CakNun.com Mantra yang Mengembalikan Manusia.

Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.