Edelweiss Langka di Tengah Kita
Insomnia,  Kerikil

Edelweiss Langka di Tengah Kita

“Kujumpai Edelweiss di puncak gunung berpasir. Terlihat tumbuh meski terlihat rapuh. Namun, kulihat akarnya tak henti membumi. Memantapkan langkah untuk tumbuh lebih terarah. Akarnya kuat, tumbuh lebih cepat.

Kemarau datang. Sesekali Edelweiss terlihat mematahkan batang. Mencoba tetap tumbuh minimal bertahan. Sampai musim penghujan kembali membawa harapan.

Warnanya putih terang. Layaknya Edelweiss di Gunung Papandayan. Terlihat menawan dari kejauhan. Boleh didekati, tak boleh dipetik tanpa disetujui atau bahkan dilukai.

Tendaku masih tegak berdiri. Tepat di bagian timur bunga abadi. Tegak berharap bertatap muka sepanjang fajar menuju senja di sore hari. Menikmati malam bersama beratapkan langit berselimut kegelapan dalam cahaya. Setiap hari tanpa terkecuali.

Edelweiss langka di tengah kita. Siapa pemilikmu jika bukan pemilik kita berdua.”

Yogyakarta,
5 November 2018

Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.