dingin di ambarawa
Rakyat

Dingin di Ambarawa

Segala jiwa yang pernah terhubung dalam satu ikatan cinta akan tetap terjaga di dalam keabadian. Tidakkah kita merasakan kenikmatan rahasia yang tak pernah bisa dimengerti?. Tiba-tiba pikiran dan pertanyaan semacam itu muncul di dalam pikiranku. Membawaku ke dalam lamunan kejadian yang sudah menjadi sejarah di masa silam. Pagi ini pun menjadi saat dingin di Ambarawa, tapi jangan biarkan angin dingin menyakiti tubuhmu. Saat pergi pakailah jaket, paling tidak lingkarkanlah syal ke lehermu.

Perjalanan menuju ke kota atlas sungguh tidak bisa kunikmati. Dingin yang terus menyelinap masuk melalui sela-sela jendela dimobil. Dingin seolah-olah menggodaku untuk menyelimutkan syal yang sudah ada di pundak ke leherku. Dingin terus mencoba untuk memelukku. Aku memberontak. Namun, tetap saja dia berhasil masuk dan mempengaruhi pikiranku yang seharusnya tenang. Dingin sedikit menggangguku untuk menikmati pemandangan Ambawara yang pagi itu sungguh menawan.

Perjalanan menuju ke kota atlas sungguh tidak bisa kunikmati. Dingin yang terus menyelinap masuk melalui sela-sela jendela dimobil. Dingin seolah-olah menggodaku untuk menyelimutkan syal yang sudah ada di pundak ke leherku. Dingin terus mencoba untuk memelukku. Aku memberontak. Namun, tetap saja dia berhasil masuk dan mempengaruhi pikiranku yang seharusnya tenang. Dingin sedikit menggangguku untuk menikmati pemandangan Ambawara yang pagi itu sungguh menawan.

Di luar jendela terlihat beberapa gunung berbaris di kejauhan. Mereka mncoba untuk menyapa dan memulai obrolan. Seperti bagaimana kita bertemu di angkringan pojok jalan. Sayangnya di mobil tak ada kopi. Jangankan kopi, air mineral pun bersembunyi saat kucari.

Dingin yang sejak tadi menggodaku untuk beranjak dari kursi, akhirnya bisa masuk ke dalam tubuhku melalui pori-pori kaki yang tak tertutupi. Aku biarkan saja karena hal ini wajar terjadi. Namun mengapa kau tetap saja tak mau menyerah dan berhenti wahai dingin yang baik hati. Dirimu terus saja merangsek masuk sampai ke ubun-ubun yang tak tau apa-apa ini.

Kukeraskan suara musik untuk merusak keheningan ini. Memilih alunan beat yang tinggi. Berharap kaki-kakiku bergerak dengan sendirinya agar dinginmu tak menusuk seluruh badanku. Hanya beberapa kilometer berjalan, aku menyadari, semua itu adalah tindakan sia-sia belaka.

Tol Bawen membawaku ke suasana yang berbeda. Tol yang baru beroperasi beberapa waktu yang lalu ini terlihat masih cukup sepi. Mobil-mobil dan truk terlihat santai. Berjalan seperti tak ada gravitasi yang mempengaruhinya untuk terus berjalan ke depan sana. Suasana begitu damai dengan alunan lagu-lagu senja di pagi hari.
Dingin yang tadi cukup mengganggu mulai bersahabat denganku. Entahlah. Padahal, sejak tadi di Ambawara kondisi seperti ini tak pernah bisa kucapai.

Dingin yang sebelumnya aku tolak, bersatu denganku di dalam syahdunya pagi itu. Membawaku menuju nikmatnya sebuah perjalanan di sisa perjalananku ke Semarang. Mungkin, munculnya penerimaan dan jiwa pasrah untuk kedinginan adalah kunci untuk bisa menikmati setiap perjalanan pagi ini. 

Ambarawa, 2018

Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.