aku orang-orangan sawah by pixaybay(dot)com
Insomnia,  Rakyat

Aku Orang-orangan Sawah

Tidak enak rasanya harus terjebak di dalam kehidupan dengan berbagai sistem yang kami tidak setuju dengannya. Ada perasaan untuk memberontak, tapi pemberontakan itu justru menyerang balik secara membabi-buta. Alhasil, hanya bisa diam dan mengikuti arus yang terus berjalan. Melihat kejadian demi kejadian, menjadi bagian dari sistem yang entah sampai kapan akan terus dijalankan.

Rasa untuk memberontak yang terus terjadi di dalam diri justru membuat segalanya menjadi lebih rumit untuk dipecahkan. Hal yang tadinya sederhana menjadi tidak bermakna, dan kebahagiaan yang tadinya ada menjadi suatu yang tidak ada artinya.

Namun ada kondisi di mana suasana menjadi sedikit lebih tenang, teduh, dan menggembirakan. Itu ada ketika di dalam rasa muncul metode penerimaan.

Ketidakbahagiaan dan kemalangan yang tadinya dominan, sedikit demi sedikit mulai menyatu di dalam alur kehidupan. Keinginan untuk memberontak yang terus mendesak pikiran ke luar dari kenyataan, lambat laun mulai menyatu di dalam penerimaan. Kedamaian bukan menjadi sesuatu yang perlu dicari lagi, karena dengan sendirinya tumbuh di dalam penerimaan yang jumbuh.

Tiba-tiba muncul suara, bertanya dari belakang pekarangan, “Tuhan, aku tak pernah bersujud kepadamu, bolehkah ini menjadi ibadahku?”. Namun, tak ada jawaban yang datang, kecuali pepohonan yang terus bergoyang di antara angin kehidupan.

Jika keinginan adalah sumber kemalangan kami. Semoga saja, Ia berkenan untuk membuat keinginan itu sesuai dengan keinginanNya, sehingga kemalangan adalah kemalanganNya juga, yang Ia sudi untuk membantunya.

Kalau pun memang sistem yang sedang berdiri sekarang adalah hasil dari apa yang seharusnya dijalani, kami akan siap menjalani tanpa ada keinginan untuk mengubahnya sedikit saja. Namun jika memang itu bukan sistem yang seharusnya Engkau kehendaki, izinkanlah kami mengubahnya dengan konsep yang seharusnya terjadi.

“Tuhan, berilah kami kemampuan untuk mengubah apa yang bisa diubah. Kesabaran menerima apa yang tidak bisa diubah. Kearifan memahami perbedaan diantara keduanya”. ~ Doa Orang Samaria

Makhluk biasa-biasa saja yang masih belajar menjadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.